Realita Pengiris Hati
Coba kita berjalan kaki di tengah kota, jangan hanya lewat saja, namun lihatlah di satu sudut jalan, tepatnya dekat dengan kolong-kolong jembatan, di sana tampak rumah-rumah terbuat dari kardus bekas dan terdapat banyak tumpukan sampah. Gubuk yang terbuat dari kardus yang tak layak dihuni bagi manusia, namun itulah realita kehidupan sekarang, yang kaya bertambah kaya yang miskin makin tambah miskin. Realita yang tidak dapat dielakkan lagi di negeri ini, negeri yang kayanya kata akan sumber daya alam.
Realita yang anda lihat di sana bukanlah realitas yang asing bagi kita semua. Di mana hati nurani tidak akan bergetar melihat mereka yang tinggal di sana kemudian keluar mencari sesuap nasi dengan mengais dan mengumpulkan sampah, terkadang mereka mengais tempat sampah untuk mencari sesuap nasi, dan terkadang pula mereka terpaksa melakukan tindakan kriminal karena itu pula. Saat mereka berbuat kriminal akhirnya mereka pun ditahan dan dipenjara dengan sistem hukum yang dipakai di negara kita yaitu hukum pidana dengan kurungan beberapa tahun. Tapi di lain sisi dari hukum itu ternyata bertekuk lutut terhadap orang-orang kaya yang mencuri melalui tindakan korupsi, mereka hanya dihukum ringan dan dapat bebeas begitu saja dengan adanya tindakan suap ataupun dengan bayar uang jaminan.
Kita bukan menyoroti hukum yang berlaku, namun saat ini yang perlu kita soroti adalah di mana letak hati nurani orang-orang yang memiliki kelebihan pada harta benda, toh harta juga bukan milik kita, yang memiliki ini semua adalah Allah SWT, Rabb yang Maha Memiliki Semesta Alam. Coba semua orang kaya mengaji, coba semua orang kaya beribadah kepada Allah, coba semua orang kaya benar-benar faham akan arti kemanusiaan, Realita ini tentu tak akan terjadi begitu dalam.
Ah, sudahlah tak ada gunanya bicara panjang lebar,
Pikirkan saja cara untuk melakukan tindakan nyata, itu lebih baik.
